Pekanbaru – Di tengah gempuran game online dan tontonan media sosial, ada pemandangan menarik yang belakangan ini menghiasi sudut Perpustakaan Tenas Effendy Kota Pekanbaru. Puluhan anak sekolah terlihat asyik membolak-balik lembaran buku tua, berdiskusi hangat dengan orang tua mereka, hingga sibuk berselancar di aplikasi perpustakaan digital. Ternyata, mereka sedang berburu kisah-kisah legendaris Provinsi Riau. Puncaknya terlihat pada Rabu (17/05/2026) lalu, saat panggung Festival Literasi “Pekanbaru Bestari” mendadak berubah menjadi ruang waktu yang menghidupkan kembali dongeng masa lalu.

Dua di antara sekian banyak anak hebat itu adalah Charles Darell Adrinata siswa SMP Negeri 4 Pekanbaru yang dengan gagah membawakan kisah kepahlawanan Sultan Syarif Kasim II, serta Mikaila Azzahra Akifah siswa SD IT Fadhilah Pekanbaru yang tampil penuh penghayatan lewat Legenda Dedap Durhaka. Tanpa rasa canggung, aksi interaktif keduanya di atas panggung sukses menyihir penonton lewat ekspresi wajah yang hidup dan intonasi suara yang begitu natural.

Fenomena ini seolah menjadi angin segar sekaligus pengingat berharga bagi kita semua. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pekanbaru berkomitmen menghadirkan panggung ekspresi seperti ini agar para orang tua dan guru menyadari pentingnya memberikan ruang konsisten bagi kreativitas dan bakat verbal anak sejak dini.

“Lewat penampilan siswa yang memukau, kami ingin seluruh lapisan masyarakat, orang tua, dan pihak sekolah tahu bahwa pemerintah menyediakan wadah bagi generasi muda untuk bebas berkreasi dan menyalurkan bakat terbaiknya. Sejatinya lomba ini menjadi salah satu upaya nyata dalam melestarikan budaya, karena bertutur tidak sekadar membaca, melainkan melatih kemampuan anak memahami budaya lokal itu sendiri,” ujar Kepala Dispusip Kota Pekanbaru, Drs. H. Muhammad Amin, M.Si.

Menariknya, kompetisi tidak sekadar melahirkan para juara di atas panggung. Efek jangka panjangnya justru terasa pada perubahan kebiasaan anak-anak di Pekanbaru yang kini mulai akrab dengan literasi. Mengajak generasi muda mencintai budaya sendiri memang menantang, namun lewat pendekatan yang menyenangkan, perpustakaan kota kini kembali menjadi tempat yang dirindukan anak-anak untuk mencari tahu asal-usul tanah kelahiran mereka.

“Menjaga budaya dari perubahan zaman adalah tantangan besar, kita tidak bisa memaksakan anak menyukai budaya tanpa ada upaya nyata. Melalui momen ini, kita sekaligus meningkatkan minat baca karena anak-anak terbiasa datang mencari informasi ke perpustakaan. Tujuan akhirnya, kita ingin peningkatan minat baca dibarengi dengan kemampuan berpikir kritis,” pungkasnya.

