Pekanbaru – Pegawai di lingkungan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pekanbaru didorong untuk menjadi pelopor gerakan pemilahan sampah mulai dari rumah dan kantor. Langkah preventif ini dilakukan melalui sosialisasi dan praktek langsung pengelolaan sampah yang digelar bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) pada Rabu (15/4/2026).

“Memilah sampah dari rumah itu kunci agar lingkungan tidak tercemar dan sampah bisa punya nilai ekonomi. ASN harus jadi contoh bagi warga dalam memilah dan mengolah sampah sebagai wujud bela negara,” ujar Kepala Dispusip Kota Pekanbaru, Drs. H. Muhammad Amin, M.Si.

Dilansir dari data pekanbaru.go.id, tercatat ada sekitar 900 ton sampah dari 15 kecamatan yang dibuang ke TPA Muara Fajar II setiap harinya. Dengan memilah sampah sejak dari dapur atau meja kerja, beban TPA diharapkan dapat berkurang secara signifikan karena jumlah limbah yang berakhir di sana menyusut.

“Kita ingin ubah pola pikir bahwa sampah itu bukan barang buangan, tapi sumber daya. Jika dipilah sejak awal, beban TPA kita pasti akan berkurang,” tambahnya.

Dalam sosialisasi tersebut, para pegawai tidak hanya mendengar teori, tetapi juga diajak praktek langsung mengolah sampah organik menjadi kompos dan membuat lubang biopori di area kantor. Cara ini dianggap paling efektif untuk menangani sisa makanan dan sampah kebun agar tidak menumpuk menjadi polusi.

“Sisa sayur, buah, dan sampah kebun jangan dibuang. Semuanya bisa kita jadikan pupuk organik cair atau kompos yang bisa dipakai sendiri di rumah,” jelasnya.

Gerakan ini merupakan bagian dari upaya menciptakan Zero Waste Family System atau sistem keluarga minim sampah di Kota Pekanbaru. Melalui kebiasaan baru ini, masyarakat diharapkan hanya membuang sampah residu ke TPA, sementara sampah organik dan anorganik habis terkelola di tangan masing-masing.

“Mari kita mulai dari diri sendiri dan keluarga. Lingkungan yang bersih dan sehat adalah investasi terbaik untuk masa depan kota kita,” tutupnya.
