Resensi Buku Pakan Baroe Nadi Sumatra yang Terlupakan

by

Identitas

Judul : Nadi Sumatra yang Terlupakan Pakan Baroe 1800-1950 Edisi II

Penulis : Bayu Amde Winata

Penerbit : Soega Publishing

Cetakan : Pertama, Februari 2022

Ukuran : 15×24 cm      

Tebal : xliii+246 Halaman

ISBN : 978-623-7555-37-7

Orientasi

Buku “Pakan Baroe : Nadi Sumatra yang Terlupakan (1800-1950) Edisi II” adalah karya Bayu Amde Winata yang membahas tentang betapa pentingnya Pekanbaru sebagai pusat perdagangan di Sumatra Timur. Kota ini berfungsi sebagai penghubung antara Pantai Barat dan Pantai Timur Sumatra, dimulai dari pasar yang berada di tepi Sungai Siak. Selain itu, Pekanbaru juga menjadi jalur logistik yang menghubungkan Sumatra Tengah dengan Malaka, Penang, dan Singapura. Meskipun begitu, Pekanbaru seringkali diabaikan sebagai “nadi” atau jalur penting di Sumatra.

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, terdapat penulisan yang disebut Pakan Baroe. Penulisan ini memisahkan antara kata Pakan dan Baroe berdasarkan ejaan Van Ophuijsen atau ejaan lama. Setelah Indonesia merdeka, Pakan Baroe kemudian diubah namanya menjadi Pakan baru dan akhirnya menjadi Pekanbaru. Saat ini, Pekanbaru merupakan Ibu Kota Provinsi Riau.

Buku edisi kedua ini memuat informasi yang ada dengan merangkum berbagai data sesuai dengan kemampuan penulis dalam menyusun data menjadi kalimat, paragraf, dan bagian-bagian yang membentuk buku. Edisi ini merupakan penyempurnaan dari edisi pertama yang memiliki batasan dalam hal data, kalimat, kelengkapan buku, catatan kaki, daftar gambar, daftar istilah, penamaan lokasi, dan daftar pustaka.

Sinopsis

Mengangkat sejarah yang terlupakan dari wilayah Pakan Baroe (Pekanbaru) dan kini mejadi Ibu Kota Provinsi Riau. Menceritakan perjalanan melalui zaman sebelum berdirinya Kerajaan Siak hingga masa keemasan perdagangan dan perkembangan Pekanbaru sebagai pusat ekonomi dan transportasi yang vital di Pulau Sumatra. Dengan fokus pada tokoh-tokoh kunci seperti Raja Kecik, Raja Alam, dan Raja Mahmud.

Kerajaan Siak Sri Indrapura adalah kerajaan yang berdiri di Pulau Sumatera, berlokasi di Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Kerajaan Melayu Islam yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Kesultanan Johor. Kerajaan ini dibangun oleh Raja Kecik, bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah. Kerajaan Siak Sri Indrapura memiliki sejarah yang rumit, terdiri dari perebutan kekuasaan internasional dan perang saudara. Pada tahun 1722 Raja Kecik mendirikan Kerajaan Siak Sri Indrapura di Buantan, bagian tengah Sungai Siak. Sungai Siak, Bukit Batu, dan Bengkalis yang dahulunya menjadi wilayah Kerajaan Johor menjadi Wilayah Kerajaan Siak Indrapura. Sejak zaman pemerintahan Raja Kecik, ekspansi Kerajaan Siak menuju Utara dan Laut China Selatan sudah dimulai.

Raja kecik memiliki dua putra yaitu raja Alam anak dari istrinya yang bernama Encik Kecik atau Djenamal dan Raja Mahmud atau dengan nama kecilnya adalah Raja Buang atau Buwang atau Tengku Buang Asmara anak dari istrinya yang bernama Tengku Kamariah. Kedua kakak adik bersaudara ini kemudian tinggal di Buantan hingga dewasa. Raja kecik memberikan gelar yang dipertuan muda kepada raja alam.sementara itu, Raja Mahmud belum diberikan gelar oleh raja kecil. Raja kecik menyiapkan Raja Mahmud sebagai pengantinya. Dari sinilah mulainya timbul bibit kecemburuan.

Pada saat Tengku Kamariah meninggal dunia, Raja Kecik seperti kehilangan pegangan hidup. Dalam kondisi yang semakin terpuruk karena duka, pembesar kerajaan bertanya kepada Raja Kecik, siapa yang akan menggantikanya. Raja Kecik pun menjawab “Siapa yang hidup, itulah anak kita”. Jawaban dari Raja Kecik menyebabkan terjadi perang saudara antara ke dua kakak beradik ini. Karena khawatir perang adik beradik ini semakin meluas, para pembesar kerajaan melantik Raja Mahmud sebagai penganti Raja Kecik. Hasil keputusan pelantikan Kerajaan Siak tidak diterima oleh Raja Alam Pada tahun 1746, Raja Alam menyerbu Siak dan menyingkirkan Raja Mahmud.

Persaingan dua adik beradik, antara Raja Alam dan Raja Mahmud ini memberikan warna pada awal Kerajaan Siak. Wilayah Kerajaan Siak terutama Sungai Siak dianggap penting oleh VOC dan Kerajaan Johor karena menjadi jalur transportasi hasil alam dari perdamaian Sumatra Bagian Barat. Dalam akhir masa pemerintahan Raja Mahmud, terjadilah perang di pos VOC di Pulau Guntung. Kemudian Raja Alam menjadi Raja IV Kerajaan Siak menggantikan anak raja Mahmud yaitu Tengku Ismail.

Pada awal 18 September 1765, Raja Alam Wafat. Beliau digantikan oleh anaknya. Raja Muhammad Ali dan menjadi Sultan V Kerajaan Siak dengan gelar Sultan Muhmmad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah (1766-1779). Pada zaman pemerintaahan Raja Muhammad Ali, Nama Senapelan diubah menajdi Pekan Bahru dan dimulailah cerita dari sebuah pelabuhan dagang di bagian dalam Sumatra.

Saat berada di Senapelan, Raja Muhammad Ali membuka pasar baru, tujuannya dibuka pasar ini untuk meningkatkan arus perdagangan dari Sumatra bagian dalam menuju Semenajung Malaka. Pasar yang dibuka oleh Raja Muhammad Ali berada di tepian Sungai Siak. Pasar ini diberi nama Pekan Baharu/Pekanbaru. Didirikan pada tanggal 23 Juni 1784 atau pada 21 Rajab 1204 Hijriyah.

Pada tahun 1786, perdagangan dari Pekanbaru sudah membawa hasil alam dari Sumatra Bagian Barat yang dikumpulkan di pelabuhan Petapahan dan Pekanbaru untuk dijual ke Penang. Prince of Wales Island atau sebutan Pulau Pinang atau Penang dibuka menjadi Pelabuhan dagang oleh Francis Light dari EIC. Walaupun berdagang dengan Penang, jalur pedagangan di Penang dan Malaka masih terjaga. Saat perdagangan di Penang dan Malaka ramai, Pekanbaru menjadi magnet bagi pedagang dari Cina, Melayu, Minangkabau, dan Arab.

Dari berbagai penjelasan diatas buku ini juga menceritakan tentang perdagangan gambir hingga eksplorasi tambang timah, buku ini memperlihatkan bagaimana Pekanbaru tumbuh menjadi pusat perdagangan yang penting. Selain itu, pembaca akan disajikan dengan cerita tentang impian membangun jalur kereta api di pantai timur Sumatra, pembagian wilayah Kerajaan Siak, hingga peran penting Pekanbaru sebagai pelabuhan perdagangan karet dan komoditas lainnya. Dengan detail yang mendalam, buku ini memberikan gambaran menyeluruh tentang sejarah dan perkembangan wilayah Pakan Baroe selama periode tersebut.

Analisis Kelebihan dan Kekurangan.

Buku Nadi Sumatra yang Terlupakan Pakan Baroe 1800-1950 Edisi II karya Bayu Amde Winata adalah sebuah buku sejarah yang membahas tentang sejarah Kota Pakan Baroe. Buku ini memberikan gambaran yang sangat detail tentang sejarah Kota Pakan Baroe, termasuk tentang kehidupan sosial, ekonomi, dan politik di kota tersebut. Buku ini juga dilengkapi dengan banyak foto dan ilustrasi yang memperjelas isi buku. Namun, buku ini mungkin terlalu khusus dan terperinci untuk pembaca umum yang tidak tertarik pada sejarah atau tidak memiliki latar belakang tentang sejarah Riau, atau Pekanbaru dan sekitarnya. Buku ini mungkin terlalu teks berat dan kurang menarik bagi pembaca yang lebih suka buku yang lebih ringan dan mudah dibaca.

Buku ini sangat direkomendasikan bagi pembaca yang tertarik pada sejarah Riau atau sejarah Indonesia pada umumnya. Buku ini juga cocok untuk mahasiswa atau peneliti yang sedang melakukan penelitian tentang sejarah Riau. Namun, bagi pembaca umum yang tidak tertarik pada sejarah atau tidak memiliki latar belakang tentang sejarah Riau, buku ini mungkin tidak cocok.

Penulis : Juhana Shania Fiska

Editor : Attayaya Zam