Kedaulatan di Ujung Jari, Generasi Muda Pekanbaru Diajak Melek Literasi Digital

by

Pekanbaru – Literasi digital menjadi kunci bagi generasi muda dalam menjaga kedaulatan informasi di era teknologi. Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pekanbaru, Drs. H. Muhammad Amin, M.Si, saat menjadi narasumber ‘Literasi Digital : Perpustakaan dan Kreator Muda‘ pada Kamis (12/02/2026).

“Kita hidup di era, dimana jari kita memegang akses ke seluruh informasi dunia. Karena itu, generasi muda harus paham literasi agar teknologi benar-benar kita kendalikan, bukan sebaliknya,” ujarnya.

Literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan gawai atau mencari informasi di internet. Lebih dari itu, literasi digital merupakan perisai dari hoaks (berita atau informasi bohong), kompas dalam memilah informasi, serta etika dalam berinteraksi di ruang digital yang sangat terbuka.

“Jempol kita bisa membangun peradaban, tetapi juga bisa merusak reputasi dalam hitungan detik. Literasi digital mengajarkan kita untuk berpikir sebelum membagikan sesuatu,” jelasnya.

Dalam pemaparannya, Amin juga menekankan empat pilar literasi digital yang menjadi dasar berpikir kritis, yaitu kecakapan digital, etika digital, budaya digital, dan keamanan digital. Keempat pilar ini penting agar generasi muda mampu menciptakan konten yang bertanggung jawab dan bermanfaat.

“Dengan memahami empat pilar literasi digital, kita bisa menjadi netizen yang tidak hanya terhubung ke internet, tetapi juga terhubung secara pemikiran dan nilai,” ucapnya.

Ia turut menyoroti peran Perpustakaan Tenas Effendy Kota Pekanbaru sebagai sumber informasi generasi muda, terutama bagi para kreator muda. Perpustakaan menyediakan lebih dari 60 ribu eksemplar buku fisik dan aplikasi iPekanbaru yang memudahkan akses buku digital kapan saja. “Perpustakaan adalah amunisi riset bagi kreator. Konten yang kuat lahir dari data dan referensi yang benar,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan agar kreator muda mengadopsi prinsip jurnalistik dalam membuat konten digital, seperti verifikasi fakta, objektivitas, serta penyusunan informasi dengan struktur 5W+1H agar pesan yang disampaikan utuh dan jelas. “Konten yang baik harus bisa dipertanggungjawabkan. Kreator punya peran besar membentuk cara pikir masyarakat,” tegasnya.

Pemberian materi ini bertepatan dengan peminjaman Aula Lantai 3 Dispusip Kota Pekanbaru pada kegiatan Literasi Digital melalui Pelatihan Jurnalistik untuk Guru SMP dan Siswa SMP, serta Guru SMA sederajat dan Siswa SMA sederajat yang ditaja oleh MHA Konsultan Pendidikan. “Kami mendukung penuh kegiatan literasi seperti ini, karena inilah investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi cerdas dan berdaulat di ruang digital,” tutupnya.