Pekanbaru – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pekanbaru menyerahkan buku karya penulis lokal dan buku resensi karya siswa SMP/MTs se-Kota Pekanbaru kepada Bunda Literasi Kota Pekanbaru, Hj. Sulastri Agung Nugroho, S.Sos., M.H. Penyerahan dilakukan bertepatan dengan momentum pelaksanaan Festival Literasi: Pekanbaru Bestari. Kehadiran karya-karya baru tersebut menjadi bukti nyata bahwa Kota Pekanbaru merupakan wadah berkumpulnya para penulis berbakat yang peduli pada ketersediaan bacaan berkualitas bagi masyarakat, Rabu (24/06/2026).

“Kami sangat bangga karena penyerahan buku ini bukan sekadar seremoni belaka, melainkan bukti nyata bahwa Pekanbaru memang gudangnya penulis berbakat dari berbagai kalangan. Melalui gerakan ini, kita bersama-sama memperkuat ekosistem literasi daerah secara menyeluruh, mulai dari hulu penulisan hingga ke hilir pembacaan di tengah masyarakat,” ujar Kepala Dispusip Kota Pekanbaru, Drs. H. Muhammad Amin, M.Si.
Buku pertama yang diserahkan berjudul Bunga Rampai: Wajah dan Budaya Pekanbaru yang diterbitkan secara nasional oleh Perpustakaan Nasional RI dan didanai lewat DAK Non-Fisik 2026. Buku lahir dari program Bimbingan Teknis Kepenulisan merangkum artikel ilmiah populer dari 53 penulis lintas profesi. Isinya dibagi menjadi dua jilid menarik, yaitu Jilid I tentang warisan budaya dan Jilid II tentang dinamika Pekanbaru Urban, yang memotret sudut pandang kota langsung dari mata masyarakatnya.

“Kolaborasi para penulis dari berbagai profesi dalam buku ini mengirimkan pesan kuat bahwa menulis adalah kegiatan yang terbuka bagi siapa saja, bukan hanya untuk kalangan sastrawan semata,” jelasnya.
Sementara, buku Bumi Membaca Kita merupakan kumpulan karya dari 45 peserta Lomba Resensi Buku tingkat SMP/MTs se-Kota Pekanbaru. Lewat buku antologi ini, para siswa diajak untuk melatih cara berpikir kritis, mengasah kemampuan literasi, sekaligus membangun kepedulian terhadap lingkungan sekitar sejak dini. Melalui karya tulis dan audiovisual kreatif, generasi muda Pekanbaru membuktikan diri bahwa mereka siap menjadi agen perubahan yang mengedukasi masyarakat luas tentang pentingnya menjaga alam secara berkelanjutan.
“Kita bisa melihat bagaimana para siswa tidak lagi menjadi pembaca pasif, melainkan mampu berpikir kritis dan mengulas buku melalui video YouTube mereka,” tambahnya.

Melalui penyerahan buku memberi harapan bagi penulis agar gagasan, pengetahuan, dan dokumentasi budaya lokal dapat menjangkau pembaca seluas-luasnya, sekaligus memicu warga lintas profesi lain untuk berani berkarya. “Untuk siswa jelas momentum ini menjadi suntikan motivasi dan pengakuan nyata atas kreativitas mereka, sehingga mampu menginspirasi sekolah-sekolah lain untuk terus melahirkan generasi muda yang kritis, kreatif, dan siap menjadi ujung tombak kebangkitan budaya literasi di masa depan,” pungkasnya.
